Seorang penggagas gerakan hebat "Servent-Leadership" yang bernama Robert K. Greenleaf (1904-1990) pernah berkata bahwa "Kepemimpinan adalah tentang melayani, bukan dilayani" itu sangat menginspirasi kita semua ketika kita punya ambisi menjadi seorang pemimpin yang hebat dan handal dimasa depan, karena kutipan itu mengajak kita untuk memikirkan kembali arti sebenarnya dari sebuah kepemimpinan.
Banyak dari kita yang mungkin tumbuh dengan pandangan bahwa pemimpin itu adalah orang yang berada dibarisan terdepan dengan memberi perintah dan diikuti oleh orang banyak, namun, Robert K. Greenleaf justru mengajarkan kita bahwa kepemimpinan sejati itu bukanlah tentang bagaimana mendapatkan suatu kekuasaan atau status, melainkan tentang bagaimana cara kita dalam melayani orang lain dengan empati dan memberikan perhatian yang dibutuhkan oleh banyak orang, sehingga akan terciptanya banyak hal-hal yang positive seperti peningkatan kinerja organisasi, terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, peningkatan kualitas hidup serta terwujudnya persatuan dan kesatuan organisasi dan tim yang kuat.
Lantas, bagaimana cara seorang pemimpin bisa melayani orang lain tanpa kehilangan otoritas atau pengaruh dalam organisasi?
Maka dari itu, mari kita lihat ditengah hiruk pikuknya dunia profesional dan sosial saat ini yang seringkali kita melihat suatu kepemimpinan diidentikkan dengan haus kekuasaan dan otoriter untuk memerintah. Karena sosok seorang pemimpin tersebut sudah digambarkan seakan ia duduk di puncak piramida, lalu memberikan perintah dan mengharapkan kepatuhan. Maka mari kita telaah lebih dalam lagi, apakah esensi kepemimpinan itu benar-benar terletak pada kemampuan untuk dilayani bukan melayani?
Saya percaya bahwa, semakin banyak yang menyadari, bahwa inti dari kepemimpinan yang sejati itu adalah bagaimana cara kita melayani, bukan dilayani. Bayangkan jika disebuah pohon yang kokoh, akarnya menghujam dalam ke tanah, menyerap nutrisi dan air untuk menopang seluruh batangnya, rantingnya, dan dedaunnya. Lalu akarnya tidak pernah meminta agar daun memberinya makanan atau agar ranting menopang dirinya. Ia dengan setia menjalankan perannya untuk memastikan kehidupan dan pertumbuhan seluruh bagian pohon. Lantas, Bukankah seorang pemimpin yang efektif seharusnya demikian? Mari kita pikirkan!
Pada hakikatnya,melayani adalah sebagai Fondasi Kekuatan, dimana ketika kita menjadi seorang pemimpin harus menempatkan kebutuhan tim dan komunitasnya diatas kepentingan pribadi, karena sesuatu yang luar biasa pasti akan terjadi apabila kita sudah memahami bagaimana cara kita dalam melayani, bukan dilayani.
Adapun hal-hal yang luar biasa tersebut yang akan terjadi yaitu ;
* Kepercayaan tumbuh subur: Orang-orang akan merasa dihargai dan didukung, sehingga menumbuhkan rasa percaya yang mendalam kepada pemimpinnya, karena kepercayaan itu adalah mata uang paling berharga dalam sebuah kepemimpinan.
* Kolaborasi menjadi lebih kuat: Pemimpin yang melayani akan menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa aman untuk berkontribusi, berbagi ide, dan bekerja sama menuju tujuan bersama. Tidak ada lagi tembok hierarki yang menghalanginya.
* Motivasi dan keterlibatan meningkat: Ketika orang merasa bahwa pemimpin mereka peduli dan berusaha membantu maka mereka akan berkembang, mereka akan merasa lebih termotivasi dan terlibat dalam pekerjaan mereka, dan merekapun tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seseorang yang mereka hormati dan percayai.
* Dampak yang lebih besar tercapai: Kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan menghasilkan hasil yang lebih berkelanjutan dan bermakna, karena ketika fokusnya seorang pemimpin itu adalah pada kebaikan bersama, dampak positif yang dihasilkan akan jauh lebih luas dan mendalam.
Lantas, bagaimana kita mengenali seorang pemimpin yang benar-benar melayani bukan dilayani?
Maka, ada beberapa ciri-ciri yang menonjol pada seorang pemimpin yang demikian antara lain :
* Pemimpin tersebut mau mendengarkan dengan empati: Mereka benar-benar hadir dan berusaha memahami perspektif orang lain, dan mereka tidak hanya mendengar kata-kata, akan tetapi mereka juga mendengarkan emosi dan kebutuhan di baliknya.
* Fokus pada pertumbuhan orang lain: Mereka berinvestasi dalam pengembangan anggota tim atau komunitasnya dengan memberikan dukungan, bimbingan, dan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
* Kesadaran diri yang tinggi: Mereka akan memahami kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri, serta bagaimana tindakan mereka dapat mempengaruhi orang lain.
* Kerendahan hati: Mereka tidak merasa lebih tinggi dari orang lain dan bersedia mengakui setiap kesalahan serta mau belajar dari orang lain.
* Bertanggung jawab: Mereka tidak semata handal menyalahkan orang lain ketika terjadi kesalahan, akan tetapi mereka berani mengambil tanggung jawab atas tindakan tim atau organisasinya.
* Visi yang jelas dan inspiratif: Mereka juga harus mampu mengartikulasikan tujuan yang lebih besar dan menginspirasi orang lain untuk bersama-sama mencapai visi- misi yang sudah dirumuskan bersama.
Maka dari itu, mengadopsi mentalitas melayani dalam kepemimpinan bukanlah hal yang mudah, karena membutuhkan keberanian untuk melepaskan ego, karena ego itu terus berkeinginan untuk selalu menjadi yang paling berkuasa. Akan tetapi, imbalan dari kepemimpinan yang melayani harus jauh lebih besar daripada kepuasan sesaat dari kekuasaan.
Kesimpulannya
Pemimpin itu tidak hanya memberikan perintah, akan tetapi juga turun tangan, mendengarkan, dan memberdayakan kebutuhan bersama untuk mencapai visi-misi yang sudah kita rumuskan, karena disanalah letak kekuatan dan keindahan kepemimpinan yang sesungguhnya dalam tindakan melayani dengan tulus dan menciptakan kepuasan bersama, mudah-mudahan kita bisa mengikuti jejak kepemimpinan Baginda Rasulullah SAW...
Aamiin Ya Rabbal'alamin
Wassalam
Penulis ; Reza Pahlevi, S.Pd.,Gr








0 komentar:
Posting Komentar